Studi Awal SWOT Analisis Terhadap Minat Mahasiswa Setelah Lulus Kuliah
(Studi Kasus Mahasiswa Pengambil Mata Kuliah Entrepreneurship di Binus University
pada Kelas TI, Sastra, dan Campuran)
Minat Mahasiswa BINUS terhadap Entrepreneurship
Written by Bambang Pratama, SH.,MH and M. Qudrat Nugraha, Ph.D
lecturers Binus University at School Business and Economic
Mata kuliah kewirausahaan (entrepreneurship) saat ini sedang sangat menjadi
pusat perhatian pihak pemerintah dan swasta. Hal ini dapat dipahami mengingat mata
kuliah ini dapat menjadi salah satu andalan andalan mencetak mahasiswa bila telah
lulus kuliah diharapkan dapat menjadi wirausaha baru. Artinya tiap lulusan perguruan
tinggi tidak tergantung kepada luas dan sempitnya lapangan kerja.
Pengembangan entrepreneurship dewasa ini sedang marak dilakukan oleh pemerintah
Indonesia dalam upaya peningkatan ekonomi dan mengurangi jumlah pengangguran di
semua sektor pekerjaan. Entrepreneurship diyakini sebagai salah satu pilar pendukung
perekonomian dalam suatu negara. Idealnya suatu negara dibutuhkan minimal 7% (David
Mclelland) tumbuh entrepreneurs pertahun dalam rangka peningkatan perekonomiannya.
Pengembangan entrepreneurs muda yang dilahirkan dari kampus merupakan tantangan
tersendiri yang pada proses pencapaiannya tidak mudah dan kerap kali menimbulkan
kendala dan hambatan.
Dengan mengenali potensi dan apa yang diinginkan oleh mahasiswa seharusnya entrepreneurship
dapat dipercepat pertumbuhannya terutama dalam tingkat universitas. Program yang
dilakukan oleh universitas ditambah dengan suasana kampus yang kondusif dapat menjadi
bridging bagi mahasiswa yang ingin membuka usaha pada saat lulus kuliah nanti.
A. Entrepreneurship
Entrepreneurship adalah proses dalam pembuatan sesuatu
yang memiliki nilai financial (menguntungkan). Entrepreneurs juga adalah seorang
yang dapat melihat peluang yang dapat merubah sampah menjadi emas (Ciputra:2008).
Adapun pendapat para ahli mengenai pengertian entrepreneur adalah kemampuan untuk
membuat sesuatu yang baru dan berbeda (Peter F. Drucker:1985). Kata entrepreneurs
berasal dari bahasa Perancis, yaitu: “Entreprendre” yang berarti melakukan
(Donald F. Kuratko:2010). Kuratko berpendapat bahwa entrepreneurs berbeda dengan
small bisnis (pemilik usaha kecil), perbedaannya adalah seorang entrepreneur adalah
orang yang penuh dengan inovasi dan memiliki konsep yang matang dalam melakukan
sebuah bisnis. Sedangkan small bisnis penekanannya lebih kepada stabilitas pendapatan.
Tiga buah poin penting entrepreneurship adalah :
- Entrepreneurship bertujuan untuk mengejar peluang dan peluang itu umumnya tidak
dapat di lihat oleh orang lain tetapi seorang entrepreneurs dapat melihatnya dan
berani mengambil resiko untuk bertindak
- Inovasi pada entrepreneurs termasih perubahan dan memperkenalkan pendekatan baru
dalam melakukan sebuah bisnis.
- Seorang entrepreneur dalam pertumbuhan bisnisnya tidak mudah puas dan selalu mencari
cara untuk selalu mengembangkan menjadi lebih besar lagi. Sedangkan yang lain lebih
mengutamakan kestabilan dalam bisnisnya.
Dapat terlihat makna dari entrepreneurship itu sendiri
adalah seorang yang dekat sekali dengan inovasi dalam pengembangan bisnisnya. Dan
dalam melakukan hal itu terkadang caranya unik dan unorthodox sehingga terkadang
karena tindakan yang tidak lazim itu kerap kali entrepreneurs di dalam dunia nyata
adalah sang pemimpi.
Proses inovasi dapat terlahir dari sebuah proses kreatif
yang sebelumnya telah melalui proses inkubasi terlebih dahulu sehingga dalam pengeksekusiannya
sesuai dengan sasaran yang dituju. Kreativitas ini menjadi trigger pemecahan masalah
dalam sebuah system ataupun lingkungan yang terjadi di masyarakat
Proses kreatif harus dapat terhubung dengan akumulasi pengetahuan dan ide, lalu
selanjutnya harus menjadi sesuatu yang dapat diemplementasikan. Seorang entrepreneurs
harus melakukan hal ini sebelum menerapkannya dalam bisnisnya sehingga proses penggodokan
yang matang akan menghasilkan sebuah inovasi yang dapat menjadi temuan baru sehingga
dapat menguntungkan usahanya.
Minat Entrepreneurship pada mahasiswa
Dalam penelitian (menggunakan analisis SWOT) yang dilakukan terhadap 115
orang terdiri dari 66 orang mahasiswa laki-laki dan 49 orang mahasiswa perempuan,
yang lalu ditemukan:
Pemahaman Mahasiswa Terhadap Entrepreneurship
Mahasiswa yang sangat mengetahui entreprenership adalah 0.87%, sedangkan mahasiswa
yang tidak mengetahui entrepreneurship adalah 4.35%, mahasiswa yang mengetahui entrepreneurship
dengan jumlah 45.22% dan yang kurang mengetahui entrepreneurship adalah 48.70%.
Mahasiswa terbanyak mengetahui entrepreneurship adalah dari mata kuliah, yaitu sebesar
60.87%, sedangkan yang mengetahui dari website adalah 24.35%, diikuti yang mengetahui
entrepreneurship dari koran sejumlah 20.87% dan yang mengetahui entrepreneurship
dari majalah dan TV sebanyak 18.26%. Data ini membuktikan dan dapat menunjukan bahwa
kebanyakan mahasiswa Binus mengetahui entrepreneurship dari mata kuliah saja.
Mahasiswa yang menganggap mata kuliah entrepreneurship menarik adalah 75.65%, yang
mengganggap mata kuliah kurang menarik 1.74%, sedangkan sisanya yang menganggap
mata kuliah entrepreneurship sangat menarik adalah sebesar 20.87%. Artinya hasil
survei ini bila dianalisis bahwa hampir 95 % lebih mahasiswa ada dikelompok yang
menyatakan mata kuliah ini menarik dan sangat menarik.
Dari jumlah responden 115 mahasiswa tersebut dapat terlihat bahwa jumlah mahasiswa
yang tidak bekerja adalah 63.48%, lalu sisanya adalah 15.65% bekerja part-time,
12.17% sedang memulai usaha sendiri dan terakhir 9.57% sudah bekerja pada orang
lain. Tingkat mahasiswa yang sedang bekerja dan yang memulai usaha di Binus terlihat
cukup tinggi karena berdasarkan survey yang diambil bahwa pada mahasiswa semester
3 mereka baru memasuki tahun kedua kuliah di perguruan tinggi. Tetapi mereka memiliki
potensi untuk bekerja dan membuka usaha pada saat kuliah tingkat akhir. Apabila
trend mahasiswa yang bekerja dan membuka usaha sendiri terus naik setiap tahunnya
maka dapat diasumsikan jumlah lulusan Binus Univeristy yang menganggur setelah lulus
jumlahnya pasti sangat kecil.
Dari jumlah responden mahasiswa dapat terlihat sebagian besar mahasiswa Binus setelah
lulus kuliah mereka ingin membuka usaha sendiri, hal ini terlihat dengan jumlah
terbanyak, yaitu 70.43%, lalu diikuti dengan jumlah mahasiswa yang ingin bekerja
sebanyak 24.35%. Hal ini dapat dipahami karena bila dianalisis lebih dalam dorongan
mereka menjadi wirausaha lebih banyak didorong oleh faktor keluarga dan lingkungan.
Mahasiswa yang menginginkan menjadi PNS (Pegawai Negri Sipil) sebanyak 4.35% dan
jumlah mahasiwa yang ingin jadi guru dan ABRI sebanyak 0.87%. Keinginan mahasiwa
setelah lulus kuliah dibagi berdasarkan gender didapat data sebagai berikut :
Hasil penelitian yang didapat adalah sebanyak 75.51% perempuan dan 63.64% laki-laki
ingin membuka usaha setelah lulus, artinya minat menjadi wirausaha lebih besar pada
mahasiswa perempuan. Mahasiswa yang ingin bekerja setelah lulus adalah 16.33% perempuan
dan 30.30% laki-laki. Untuk mahasiswa yang ingin menjadi Pegawai Negri Sipil setelah
lulus hampir berimbang, yaitu 4.08% perempuan dan 4.55% laki-laki. Sedangkan yang
menginginkan menjadi guru hanya terjadi pada mahasiswa perempuan, yaitu 4.08% dan
tidak diinginkan oleh mahasiswa laki-laki. Temuan penelitian yang paling menarik
adalah didapatnya 1.52% mahasiswa laki-laki yang ingin menjadi ABRI pada saat lulus
kuliah, melihat latar belakang data yang di dapat mahasiswa yang ingin jadi ABRI
dilatarbelakangi oleh orangtuanya yang memang ABRI.
Hasil penelitian selanjutnya adalah alasan dan harapan mahasiswa mengambil dan mengikuti
mata kuliah entrepreneurship di Binus University adalah sebagai berikut :
Hasil penelitian yang didapat adalah bahwa sejumlah 59.13% mahasiwa memiliki alasan
untuk mendapat pengetahuan dari studi entrepreneurship sedangkan harapannya adalah
73.04%. lalu diikuti dengan sejumlah mahasiswa yang ingin membuka usaha sebesar
17.39%. sedangkan alasan mahasiswa mengikuti mata kuliah entrepreneurship untuk
mencari pengalaman dan modal adalah 2.61% , yang ingin mencari kerja adalah 1.74%
dan jumlah mahasiswa yang memang ingin membuka usaha adalah 17.39%. sedangkan mahasiswa
yang mengikuti mata kuliah ini tanpa harapan dan alasan yang jelas adalah 17.39%.
Artinya grafik ini memberikan arah kepada para dosen bahwa hampir sepertiga populasi
mahasiswa mengharapkan memperoleh tambahan pengetahuan tentang bisnis dan kewirausahaan
dalam mata kuliah ini.
Faktor Pendorong Mahasiswa Ingin Bekerja Dan Membuka Usaha
Dari perbandingan faktor-faktor yang mempengaruhi mahasiswa dalam bekerja dan membuka
usaha, faktor yang paling signifikan mempengaruhi adalah keluarga, yaitu 25.22%
untuk membuka usaha, sedangkan faktor keluarga mendorong mahasiswa untuk bekerja
hanya 11.30%. Minat mahasiswa dan keinginan yang kuat dalam membuka usaha adalah
19.13% sedangkan untuk bekerja adalah 9.57%. Dosen dan (lingkungan kampus) juga
menjadi pendorong mahasiswa dalam membuka usaha, yaitu 1.74% dan 0.87%.
Secara umum dapat terlihat mahasiswa di Binus University tidak menginginkan untuk
bekerja setelah lulus hal ini dipicu oleh latar belakang keluarga yang sangat dominan
mempengaruhi. Sedangkan kemampuan yang mendukung mahasiswa untuk membuka usaha sendiri
adalah berangkat dari hobi sebanyak 2.61% untuk mengembangkan hobinya yang nantinya
dapat dijadikan modal dalam membuka usaha. Faktor lain yang berimbang yang mempengaruhi
mahasiswa untuk bekerja dan membuka usaha adalah pengaruh orang lain, yaitu 2.61%
dan pengaruh dari surat kabat atau koran sebesar 0.87%.
Analisa Potensi Mahasiswa
Dari temuan-temuan penelitian banyak sekali fenomena menarik yang didapat, misalnya
secara garis besar kebanyakan mahasiswa Binus setelah lulus kuliah menginginkan
untuk membuka usaha sendiri ketimbang untuk bekerja baik pada perusahaan swasta
maupun pada perusahaan pemerintah atau departemen (PNS). Hal menarik yang sifatnya
kasuistis adalah adanya mahasiswa Binus yang setelah lulus untuk menjadi ABRI.
Hal ini sesungguhnya sangat menarik dan pasti memiliki alasan terjadi hal yang demikian,
terbukti dari banyaknya mahasiswa yang menjawab bahwa pengaruh terkuat dalam penentuan
pilihan setelah lulus kuliah adalah keluarga (terutama serumah) Bapak, Ibu, Adik
dan Kakak ditambah lagi dengan kerabat dekat.
Dalam lingkungan kampus Binus, dosen juga memotivasi mahasiswa untuk menjadi wirausaha,
hanya jumlahnya masih sedikit, yaitu 1.74% dan lingkungan kampus sebesaar 0.87%.
Untuk jurusan berdasarkan hasil temuan penelitian awal ini menjadi faktor penghambat
mahasiswa untuk membuka usaha, dan jumlahnya cukup tinggi, yaitu 1.74% jumlah ini
seimbang dengan jumlah dosen yang memotivasi mahasiswa untuk membuka usaha.
Penulis mencoba mendeskripsikan kekuatan dan potensi mahasiswa Binus University
dengan menggunakan SWOT analisis, yaitu :
Hasil pemetaan SWOT atas kekuatan potensi mahasiswa, maka masuk akal apabila mahasiswa
digali potensinya untuk diantarkan menjadi seorang pengusaha, hanya proses pembentukan
wirausaha pada diri mahasiswa tidaklah mudah dan memerlukan waktu, karena tingkat
resistensi mental pada masing-masing mahasiswa berbeda-beda karena latar belakang
kehidupannya masing-masing. Binus University secara umum telah membuat
suasana yang kondusif bagi tumbuhnya mahasiswa yang ingin membuka usaha, baik secara
infrasutruktur dengan adanya BEC (Binus Entrepreneursip Center) dukungan para dosen
entrepreneurship dan juga dosen mata kuliah lain yang selalu mendorong mahasiswa
untuk kreatif dan inovatif dan juga suasana kampus yang baik.
Hanya saja keterbatasan waktu pembelajaran entrepreneurship dapat menjadi barriers
yang cukup tinggi bagi tumbuhnya entrepreneurship. Keterbatasan waktu kuliah ditambah
dengan padatnya jadwal kuliah yang ditempuh oleh mahasiswa untuk menyelesaikan study
menjadi penghambat yang kuat bagi mahasiswa yang ingin praktek entrepreneurship
secara langsung. Selain itu faktor penghambat lainnya adalah keterbatasan waktu
para dosen untuk membimbing secara khusus mahasiswa yang ingin membuat bisnis, juga
keterbatasan kemampuan dosen yang memang memiliki pengalaman usaha. Karena idealnya
dosen yang membimbing mahasiswa yang ingin membuat bisnis harus juga mempunyai pengalaman
usaha ataupun menjalankan usaha sehingga tidak terlalu banyak berteori dan hanya
mengajarkan teori terapan pada dunia usaha dan kenyataan di bidang usaha yang sesungguhnya.
Menurut kategori bisnis yang dibuat oleh WIPO bahwa bisnis mengenai teknologi informasi
yang berkaitan dengan hak cipta berada pada urutan pertama. Binus University sebagai
salah satu kampus dengan penguatan ICT (Information and Communication technology)
menjadi keunggulan yang belum tentu dimiliki oleh kampus lain. Suasana di Binus
penuh dengan nuansa ICT sehingga pada saat kuliah di Binus mahasiswa belajar dalam
lingkungan teknologi dan mendukung lahirnya entrepreneurs muda berbasis ICT. Hal
ini terlihat dari jawaban mahasiswa yang menjawab bahwa suasana kampus juga telah
menjadi salah satu pendorong mahasiswa untuk membuka usaha. Selain itu secara kompetisi
nasional dan global peluang bisnis berbasis ICT ini permintaan pasarnya sangat tinggi
oleh sebab itu secara perhitungan bisnis peluang di bidang ICT ini masih layak untuk
dimasuki oleh para lulusan Binus.
Memasuki pasar baik global maupun nasional oleh mahasiswa haruslah melalui proses
perhitungan yang matang dan cermat. Dalam kalkulasi timing yang tepat memasuki pasar
sudah pasti kemampuan mahasiswa sangatlah terbatas. Oleh sebab itu diperlukan bimbingan
dan pengalaman dari para dosen, sehingga mahasiswa dapat menentukan kapan waktu
yang tepat dan bagaimana cara pemasaran produk yang dijual dalam usaha yang dibuat
oleh mahasiswa tersebut.
Umumnya mahasiswa dalam membuat sebuah usaha tidak berpikir panjang dan terkadang
emosional dan mengikuti trend saja. Hal ini terlihat dari lemahny konsep bisnis,
visi, misi dan tujuan pembuatan bisnis tersebut. Salah satu cara untuk menjembatani
pembelajaran ini seharusnya mahasiswa harus banyak dilatih studi kasus perusahaan-perusahaan
besar yang ada dan mereka lihat. Di samping itu juga dalam pembuatan bisnis plan
pada saat mahasiswa mengikuti mata kuliah entrepreneurship hal ini dapat dilatih
sehingga pada saat diterapkan dalam dunia sesungguhnya mereka telah memiliki pemahaman
yang baik dan mampu berkompetisi.
References
- Aziz Abdul Bin Abdul latif, Ahmad Ghazali, Opportunities for Cross Boarder Entrepreneurship
Education in ASEAN Region, IICIES International Seminar, SMB-ITB dan UMN, Banten,
2010 European Commision Directorate-General of Enterprise and Industry, A Survey
of Entrepreneurship in igher Education in Europe, NIRAS Consultant, FORA, Econ POYRY,
2008
- Berry, Tim Use SWOT Analisys,
http://planasyougo.com/use-a-swot-analysis/ accesed on September 2010
- Entrereneurship Dilahirkan atau Diajarkan,
http://www.ciputra.org/node/74/entrepreneur-dilahirkan-atau-diajarkan.htm?page=0%2C1
, 2010
- http://en.wikipedia.org/wiki/SWOT_analysis,
accesed on September 2010
-
http://upupaepops.wordpress.com/2008/02/13/peringkat-universitas-se-indonesia/,
accesed on September 2010
- http://www.businessweek.com/magazine/content/02_19/b3782609.htm,
accessed on April 2010
- Ike Janita Dewi “Framework in Calculating the Economic Contribution of the
Copyright-based Industries in Indonesia using WIPO Methodology” IICIES International
Seminar, SMB-ITB dan UMN, Banten, 2010
- Kasali R, Prof. dkk, Modul Kewirausahaan Untuk Program Strata 1, PT. Mizan Republika,
2010
- Kasali R, Prof. Myelin Mobilisasi Intangibles Menjadi kekuatan Perubahan, Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta 2010
- Kuratko, D.F., (2009). Entrepreneurship, Theory, Process, Practice. 8 Edition. South-Western
Cengage Learning. Mason, OH. South-Western.